Langsung ke konten utama

Bertaut Bagian 2

 

Suara adzan terdengar beriringan dengan proses pemakaman Laras, aku melihat ke arahnya yang terbujur kaku dengan kain kafan yang membalut sekujur tubuhnya. Ibu Laras tepat berada di sampingku, menangis tersedu-sedu walau tak sehisteris malam tadi, aku memeluknya sambil berusaha menenangkan beliau. Ibu Laras adalah salah satu perempuan yang hebat dan kuat, semenjak ayah Laras meninggal, Ibu Laras berusaha sekuat tenaga untuk menghidupi dirinya dan Laras, tak pernah sekalipun aku melihatnya mengeluh apalagi menangis seperti ini. Ibuku juga ikut menangis, Ayahku menenangkan di sampingnya. Sedangkan aku hanya berdiri di sana, melihat tanah yang semakin menggunung menutupi Laras. Sungguh, mungkin beberapa dari kalian akan menganggapku tidak berbelas kasihan, tapi percayalah, aku sedih, sungguh sangat sedih, namun aku sudah cukup menangis, dan menangis tak pernah menyelesaikan masalah.

Pandanganku masih kosong, aku tidak berbicara barang sepatah katapun. Ibuku dan beberapa orang mengajak Ibu Laras dan aku untuk beranjak dari makam Laras. Aku mempersilahkan mereka duluan, aku ingin diam di sini sebentar, Ayahku datang dan menepuk pundakku, beliau izin pulang duluan karena khawatir dengan ibuku, aku mengangguk perlahan.

Aku mendekatkan diriku ke gundukan tanah yang masih baru dengan papan nisan bertuliskan nama sahabatku.

“Aku harus apa Laras?” tanyaku perlahan.

“Apa aku harus diam mengetahui fakta yang tidak akan terungkap dan membiarkan lelaki itu bebas berkeliaran?” aku mengepalkan tanganku kuat-kuat, karena rasanya aku ingin berteriak mengungkap kebusukan Cipto.

“Laras, maaf, aku berdoa agar kamu tenang, namun untuk sebentar saja, kamu akan merasa sedikit terusik olehku. Laras, doakan aku.” Kataku sambil berjongkok dan berkata kepada gundukan tanah itu layaknya aku yang berbicara pada Laras.

Aku merapikan pakaianku dan berjalan menjauhi makam Laras, aku melihat ke makam Laras untuk terakhir kalinya. Pagi itu, di tengah rumah para insan yang telah berpulang, aku mengepalkan tanganku dan memantapkan hatiku untuk mencari keadilan untuk Laras, aku tahu, hal ini tidak akan pernah mudah seperti membalikkan telapak tanganku, tapi aku percaya, Sang Maha Kuasa tak pernah tidur dan semesta tau kemana karma akan diantar.

***

“Bu, mana Ibu Laras?” kataku saat melihat hanya Ibuku yang terduduk di ruang keluarga Laras dengan beberapa tamu yang tersisa.

“Di kamar Laras, Kar.” Kata ibuku.

Aku menenteng buku harian Laras dan mengetuk perlahan pintu kamar Ibu Laras.

“Masuk.” Kata seseorang di dalam sana.

Aku membuka pintu itu perahan dan mendapatkan Ibu Laras sedang duduk di bawah kasur sambil merapikan piala Laras yang ia peroleh dari beberapa lomba.

Aku tersenyum tipis dan ikut duduk bersamanya sambil membantu merapikan piala Laras.

“Laras itu baik tidak Sekar?” tanya Ibu Laras.

Aku mengangguk perlahan sambil tersenyum, “Baik sekali Ibu.”

Ibu Laras tersenyum mendengar jawabanku, “Ibu suka bingung Sekar.” Katanya perlahan.

Aku menghentikan kegiatanku dan melihat ke arahnya.

“Kenapa suka ada saja cobaan untuk orang baik.” Kata ibu Laras sambil terus merapikan piala, “Ibu sudah bilang sama Laras, tidak apa-apa, tapi Laras takut katanya Sekar, Laras takut buat Ibu malu, Laras takut Ibu kena omongan jelek tetangga.”

Ibu Laras mulai menitikkan air mata, “Ibu bilang sama Laras, kalo Laras mau pindah juga tidak apa-apa, Ibu punya cukup tabungan untuk sewa rumah dan makan sehari-hari,” ia menghela nafasnya, “Laras bilang jangan, Laras gak mau Ibu terpisah sama Ibu Sekar, nanti Ibu sendiri katanya.”

Ibu Laras menghapus air matanya, “Kemarin, Laras tiba-tiba bilang ingin makan pepes ikan buatan Ibu dan Ibu Sekar, jadi Ibu pergi ke rumah Sekar sebentar buat masak pepes ikan, Ibu kira Laras sudah mau makan lagi seperti biasa.”

Tubuh Ibu Laras mulai terguncang, “Tapi waktu Ibu pulang, Laras sudah tidak ada Sekar.” Katanya diiringi tangisan yang menyayat hatiku.

Aku memeluk Ibu Laras, menenangkannya perlahan.

Ia mencoba mengatur nafasnya, “Sekar, Sekar udah baca buku itu?” katanya sambil menunjuk buku harian Laras yang aku bawa.

Aku mengangguk, “Laras bilang, kita harus ikhlas, kita tidak boleh dendam, tapi Ibu belum bisa nak.”

Aku melihat ke arahnya sambil mengangguk setuju, “Sekar, Ibu tau Sekar sejak Sekar masih kecil, sejak Sekar masih sering berantem sama Laras, sejak Sekar masih sangat-sangat pendek dan sekarang Sekar setinggi ini, Ibu sayang sama Sekar, sama seperti ibu sayang sama Laras, jadi Ibu tau apa yang ada di pikiran Sekar sekarang.”

Ibu Laras terus mengelus rambutku dan melihatku dengan lembut, “Sekar pasti ingin balas dendam sama laki-laki itu kan?”

Aku melihat ke arahnya, mungkin inilah yang dinamakan dengan intuisi seorang Ibu, aku mengangguk perlahan.

Ibu Laras tersenyum, “Ibu tidak akan menghalangi Sekar berbuat hal apapun yang Sekar rencanakan, tapi Ibu tidak mau Sekar kenapa-kenapa.”

“Sekar, Ibu tidak pintar seperti Sekar, ibu hanya tahu cara berjualan dan merayu pembeli biar mereka mau beli dagangan Ibu, tapi Ibu tau, Sekar pintar dan tau apa yang harus Sekar perbuat.” Ibu Laras bangkit dari duduknya dan kembali dalam beberapa menit membawa sebuah amplop coklat berukuran besar. Ia kembali duduk di sampingku dan menyerahkan amplop coklat itu.

Aku melihat ke arahnya, ia mengisyaratkan diriku untuk membuka amplop tersebut.

Aku melihat lambang dan nama salah satu rumah sakit di kota Bandung, membaca dengan seksama, dan darahku mulai mendidih. Hasil visum ini menyebut adanya pendarahan pada alat kelamin, selaput dara yang sobek, dan luka di paha kanan-kiri.

“Malam itu Laras pulang terlambat, katanya ada ujian praktek dan kumpul bersama teman-teman sebentar, tapi sampai lewat tengah malam Laras belum pulang, perasaan Ibu tidak enak Kar. Terus Ibu dengar ada yang buka pintu, tapi Ibu tidak langsung keluar karena Ibu sedang shalat Tahajud, lalu Ibu dengar Laras menangis di kamar ini.” Ibu Laras menunduk dan suaranya terdengar sangat pelan namun begitu menyakitkan.

“Ibu ketuk pintunya perlahan, lama Laras buka pintu, waktu Laras buka pintu, Ibu lihat Laras sedang menangis, rambut dan bajunya acak-acakan, belum lagi ada lebam-lebam di badan Laras.” Suara Ibu Laras mulai bergetar, “Ibu tanya kenapa? Laras hanya menangis sambil minta maaf, subuh-subuh Laras cerita sambil terus menangis, Ibu khawatir sama kondisi Laras dan bawa Laras ke rumah sakit.”

Aku melihat Ibu Laras yang menangis, “Ibu kenapa gak lapor ke polisi?” tanyaku.

Ibu Laras menggeleng, “Laras tidak mau Sekar, malu katanya.”

“Setelah itu gimana bu?” tanyaku.

“Laras tidak mau makan Sekar, tapi dirinya masih memaksakan diri ke sekolah, dia masih tersenyum dan tertawa tapi selalu menangis di kamarnya setiap malam, hati Ibu sakit sekali Sekar. Sampai beberapa bulan yang lalu Laras bilang perutnya aneh dan mual-mual, Ibu sudah punya dugaan kuat kalo Laras hamil, dan ternyata dugaan Ibu benar. Laras menangis hebat saat itu, malu dan takut katanya.” Ibu Laras menggenggam tangannya erat-erat.

“Ibu harus gimana sekarang Sekar?” tanyanya lemah.

Aku menggenggam tangan Ibu Laras perlahan, “Ibu, ayo kita lapor ke polisi, kita bawa bukti yang kita punya.”

Ibu Laras melihatku dengan mata sembabnya, ia hanya mengangguk perlahan.

***

Aku berdiri di depan kantor polisi dengan membawa amplop coklat dan buku harian Laras. Ibu Laras menggamit tanganku. Aku mendorong pintu dan menyarankan Ibu Laras untuk duduk sebentar, sedangkan aku akan membuat laporan.

“Pak, permisi.” Kataku pada seorang petugas berseragam polisi lengkap.

“Saya ingin melapor.”

Ia melihat ke arahku dan tersenyum genit, “laporan apa cantik?”

Aku melihat risih ke arahnya, “Kekerasan seksual.”

Ia mengangkat alisnya, “Kamu yang mengalami?” tanyanya sambil melihat ke belakangku.

“Bukan, teman saya.” Kataku singkat dan jengkel karena mata polisi ini tak hentinya memperhatikan tubuhku.

“Loh, kok kamu yang lapor?” tanyanya.

“Teman saya sudah meninggal.”

Dia mengangkat alisnya lagi, “siapa namanya coba?” ia mulai mengambil seperti sebuah formulir entah apa namanya dan bersiap untuk menulis.

“Laras.” Kataku.

Ia menghentikan kegiatannya dan melihat ke arahku, “Laras mana?”

“Laras Purbawati.” Kataku sambil menunjukkan selembar fotonya yang aku bawa.

Ia mengambil foto tersebut dari tanganku, “siapa dugaan pelaku nya?”

“Cipto. Hakim Cipto.” Kataku.

Ia lagi-lagi menghentikan kegiatannya dan melihat ke arahku.

“Hakim Cipto mana neng?” tanyanya tengil sambil tersenyum.

“Hakim Cipto, berperut buncit, beruban setengah botak, dan pendek.” Kataku sambil melihat tajam ke arahnya.

Ia tertawa, “ngayal kamu! Daripada repot-repot ngerjain saya mending pergi yu sama saya, kita ke puncak atau belanja deh, saya beliin kamu apapun yang kamu mau.” Ia melihat genit ke arahku, “temani saya saja satu malam.”

Aku naik pitam, namun aku menarik nafas perlahan untuk menahan emosiku, “Pak, teman saya diperkosa, saya punya bukti dan hasil visumnya.”

Ia hanya tertawa, ia melihat ke arah teman sesama polisi di belakangnya, “Loba nu wani ayeuna mah, loba nu mulai ngalapor ulah Hakim Cipto deui.”

Ia dan beberapa temannya pun tertawa terbahak-bahak.

Lagi? Lagi katanya?

“Udah neng biarin aja lah, udah gak ada ini kan ya temennya, mending main sama saya deh, saya bayar kalo perlu.” Katanya mulai memegang tanganku.

Aku melihat tajam ke arahnya, “Pak, saya bahkan punya saksi.” Kataku berusaha melepaskan tanganku dari tangan kotornya.

“Iya deh Bapak proses, tapi neng main dulu sama bapak gimana?” tanyanya berusaha memegang tanganku lagi dan mengelusnya.

Aku merasa mual, lebih mual daripada saat aku menaiki mobil. Aku menarik kasar tanganku.

Mendorong meja yang ada di hadapannya dengan kakiku sampai ia terjepit meja tersebut. semua orang yang ada di kantor polisi melihat ke arahku dan polisi itu. Aku berniat memukul nya habis-habisan namun mengurungkan niatku karena ada kemungkinan polisi ini akan melaporkanku.

“Kaki saya tergelincir pak, maaf ya.” Kataku merapikan meja yang aku tendang.

Polisi itu melihat terkejut ke arahku, ia merapikan bajunya dan mulai memarahiku, “Gimana kamu?! Bisa-bisanya begitu ke polisi, tidak ada sopan santunnya!”

Aku melihat ke arahnya kesal, “Loh, katanya bapak ingin main? Semalam cukup kan pak? Saya mainnya begini, jadi mau gak mau bapak harus setuju bukan?” aku mengeraskan suaraku agar semua orang bisa mendengar perkataanku.

Semua orang mulai melihat ke arahnya dan saling berbisik, wajahnya merah padam, urat-urat di wajahnya mulai nampak, “Kamu itu tidak sopan! Kamu itu cuma perempuan kecil! Jangan so-soan kamu!”

“Lalu kenapa kalo saya cuma perempuan? Tidak boleh mencari keadilan di negeri ini? Tidak boleh mencari keadilan untuk temannya yang baru saja meninggal kemarin? Tidak boleh rakyat kecil meminta pertolongan kalian semua?” tanyaku sambil menunjuk dirinya dan beberapa polisi yang tadi menertawakanku atau hanya memperhatikanku.

Ia melihat geram ke arahku, “Jangan so jadi pahlawan kamu! Kamu juga ujung-ujungnya akan menurut pada laki-laki! Masih beruntung kamu tidak saya penjarakan.”

“Kenapa? Emosi bapak tersulut sama fakta yang saya bilang? Bapak mau penjarakan saya? Atas dasar apa? Ada hukumnya tidak pak? Atau bapak tidak tahu arti hukum itu apa? Ini lah pak, jangan banyak bermain, banyaklah belajar.” Kataku menepuk pundaknya perlahan.

Ia melihat geram ke arahku dan meremas tanganku kuat-kuat, aku tersenyum ke arahnya, “aduh pak, sakit!” kataku menarik tanganku dan mengelus bekas cengkraman polisi itu.

“Pak jangan kasar dong!” kata seorang Ibu sambil mendekat dan menunjuk polisi itu.

“Iya pak! Padahal bapak sendiri yang duluan megang-megang!” kata seseorang di belakangku.

“Neng tidak apa-apa?” tanya seorang bapak sambil memperhatikan bekas cengkraman polisi itu yang berwarna kemerahan.

“Agak sakit pak.” Kataku meringis.

“Gimana sih? Kerja gak bener juga!” kata bapak yang tadi menanyakan kabarku.

Wajah polisi itu semakin merah, entah malu atau marah, ia melihat ke arahku kesal. Aku menunjuk bekas cengkramannya yang berwarna merah di lengan sambil tersenyum.

“Udah neng, gak akan bener dilayanin sama tua keladi gini mah!” kata seorang Ibu melihat sinis ke polisi itu.

Aku mengangguk dan berjalan ke arah bapak itu, “Saya mau lapor pak.” Kataku mengulang tujuanku.

Ia melihat kesal ke arahku dan mulai mendata laporanku.

Sedangkan orang-orang menatap polisi tiu dengan geram dan kesal, polisi-polisi yang lain berpura-pura tuli dan buta, mereka seolah tak peduli dengan hal yang terjadi.

***

Aku keluar dari kantor polisi bersama Ibu Laras.

“Sekar, kamu tidak apa-apa kan nak?” tanya Ibu Laras entah keberapa kalinya.

Aku tertawa kecil, “Masih sakit dicubit Laras bu.”

Ibu Laras tersenyum kecil, “Makasih banyak ya nak.”

Aku melihat ke arahnya dan mengangguk, aku yakin, mereka tidak akan pernah menindaklanjuti kasus ini, dan apa katanya. Lagi? Berarti ada orang sebelum diriku yang melapor atas perbuatan Hakim Cipto dan pasti, Hakim Cipto telah membayar mereka untuk pura-pura buta, tuli, dan bisu tentang kasus yang bersangkutan dengan dirinya.

Menunggu tidak pernah cukup.

Melangkah adalah jawabannya.

Aku tidak bisa hanya menunggu hasil dari investigasi para genit itu. Apa yang aku harapkan dari mereka yang katanya menjaga dan mengayomi masyarakat? Hanya sebuah penghinaan karena aku seorang perempuan dan rakyat biasa.

“Ibu, Sekar mau ke toko buku sebentar, Ibu bisa pulang duluan?” tanyaku kepada Ibu Laras.

“Bisa Sekar. Sekar tidak apa-apa sendiri?” tanyanya khawatir.

“Tidak apa Ibu, Sekar takut lama, karena ini menyangkut tugas besar Sekar. Ada yang mau Ibu beli?” tanyaku.

“Tidak. Sekar hati-hati ya, bilang sama Ibu kalo udah pulang.”

Aku mengangguk dan berpamitan dengan beliau.

Aku berjalan ke halte untuk menaiki angkot ke salah satu toko buku bekas yang ada di kota Bandung. Jika mereka menggunakan uang dan kekuasaan, maka aku akan gunakan pengetahuan.

***

Aku masih bergulung dengan koran-koran bekas di hadapanku, sang pemilik toko, Pak Danu, penjaga toko langgananku mempersilahkan aku bergelut sendirian dengan ratusan koran lama sedangkan dirinya izin bermain catur dan minum kopi bersama rekannya.

Aku mencari koran yang memuat berita tentang Hakim Cipto dan berita mengenai kasus kekerasan seksual yang terjadi di Bandung atau jika perlu kota lainnya. Aku berharap semoga setidaknya ada kesamaan tentang kasus mereka dan aku bisa menarik garis lurus agar bisa digunakan sebagai senjata melawan Hakim Cipto.

Aku merasa kakiku pegal dan pundakku mulai pegal. Mana Pak Danu? Aku tidak bisa fokus dengan pelanggan yang terus berdatangan dan mau tak mau aku harus melayani mereka.

Aku melihat tumpukan koran di meja kasir yang sengaja aku pisahkan, cukup banyak korang yang memuat berita tentang Hakim Cipto di dalamnya, mereka memuji prestasinya, kejeniusannya, kasus yang ia adili, kebaikannya, tanpa tau kebusukannya. Aku menghela nafas ketika mendapati koran yang memuat berita tentang kekerasan seksual masih sedikit. Baiklah, aku merasa koran ini sudah cukup untuk hari ini, aku akan meminta Pak Danu untuk mencari koran lainnya sebagai imbalan untuk jasa membantu melayani pembelinya.

Teh, ada buku Jane Austen?” pertanyaan seseorang membuyarkan pikiranku.

“Ada kalo gak salah a.” Jawabku sambil melihat ke arahnya.

Aku mengernyitkan dahi ketika mendapati aa-aa yang aku panggil tidak lain dan tidak bukan adalah lelaki penikmat bakso dan teh hangat yang aku kira dosenku kemarin.

“Loh? Sekar?” tanya bersemangat.

“Hadi?” tanyaku ikut-ikutan.

Ia tersenyum sangat lebar, “Kamu kerja disini? Kok aku gak pernah liat ya?”

Aku tersenyum kikuk, “Bukan, aku lagi nyari buku, tapi Pak Danunya lagi main catur.”

“Oalah! Aku kira Pak Danu pindah, soalnya yang ngelayaninnya teteh-teteh.” Katanya lega.

Aku tertawa kecil, “Bukan.”

“Loh, Hadi! Kemana aja kamu!” sapa Pak Danu dari belakang sambil membawa secangkir gelas plastik berisikan kopi dengan asap yang masih mengepul.

“Pak Danu!” katanya salam seperti ke orangtuanya sendiri.

“Ada di kosan. Biasalah kemarin ke luar kota buat ikut seminar-seminar.” Katanya santai.

“Ya, da kamu mah nyari alesan terus baut bolos kuliah. “ kata Pak Danu sambil berjalan masuk ke tokonya.

“Udah belum Sekar?” tanya Pak Danu.

“Udah, tapi masih kurang.” Kataku sambil menunjuk tumpukan koran di meja kasir, “Pak Sekar mau minta tolong.”

Sok, minta tolong apa? Tadi ada yang beli Sekar?” tanyanya melihat uang yang tergeletak di meja bersama dengan catatan berisikan daftar buku yang telah dibeli.

“Ada, tolong bantuin Sekar cari koran yang ada beritanya tentang Hakim Cipto.” Kataku sambil memasukkan tumpukan koran tadi ke kresek hitam yang disediakan Pak Danu.

“Buat apa gitu?” tanya Pak Danu.

“Buat Tugas,” kataku berbohong karena tau Pak Danu akan histeris ketika mengetahui rencanaku, “sama ini pak, berita-berita tentang kasus kekerasan seksual.”

Pak Danu melihat ke arahku, “Ai, kamu ngerjain tugas apa?”

Aku tertawa kecil, “Sekar butuh referensi buat nulis, kan Pak Danu tau mimpi Sekar, jadi bapak juga harus mendukung mimpi Sekar.”

Pak Danu hanya mengangguk-angguk dan merapikan belanjaanku, “tuh Hadi! Contoh kamu teh! Semangat dalam belajar!” kata Pak Danu memukul kepala Hadi perlahan menggunakan koran yang digulung.

“Iya, iya.” Kata Hadi sambil mengusap-ngusap kepalanya.

“Mau buku apa kamu Hadi?” tanya Pak Danu.

Hadi mulai menyebutkan kembali buku yang akan ia beli, dan aku sebagai pecinta sastra tahu betul buku apa yang Hadi cari. Aku membayar belanjaanku dengan menggunakan diskon Pak Danu yang tidak masuk akal, katanya sebagai bentuk selamat datang kembali.

Aku duduk di salah satu warung penjual es kelapa sambil menunggu pesananku. Aku membaca kembali koran yang aku beli dan berhenti ketika  suara tidak asing menyapaku.

“Sekar!” sapanya.

Aku hanya mengangguk perlahan.

Tanpa ada angin ataupun badai, ia duduk di sebelahku dan ikut memesan es kelapa.

“Kamu kenapa nyari koran tentang Hakim Cipto?” tanyanya lagi.

“Buat tugas.” Kataku sambil memasukkan lagi koran yang aku baca ke dalam kesek.

Ia tertawa, untungnya bukan tawa Joker yang membuatku trauma, “Kamu bohong!”

Aku melihat ke arahnya.

Ia tersenyum, “Saya tahu orang seperti kamu tidak akan buang-buang waktu menulis tentang orang seperti beliau.”

“Darimana kamu tahu tugas saya akan menulis?” tanyaku penasaran, “Maksudnya orang seperti beliau?”

“Saya tanya Pak Danu, kaatnya mimpi kamu jadi penulis, Pak Danu cerita banyak hal tentang kamu, saya merasa jadi lebih dekat sama kamu lewat orang lain,” katanya sambil tertawa.

Ya ampun, Pak Danu.

Ia mengikat rambut gondrongnya ke belakang sesaat setelah es kelapanya datang.

“Kemarin waktu makan bakso saya lupa bawa karet rambut.” Katanya menjelaskan tanpa aku tanya.

Aku hanya manggut-manggut sambil menyeruput es kelapa.

“Orang seperti beliau, bagaimana ya cara menjelaskannya?” ia bertanya pada dirinya sendiri.

“Kamu tau sesuatu tentang beliau?” tanyaku perlahan.

Ia seolah mengerti membicarakan hal buruk Hakim Cipto di tempat umum adalah hal yang kurang baik karena citranya yang luar biasa seantero Bandung. Ia mengangguk.

Aku melihat ke arahnya penasaran, “Bisa kasih tau saya?”

Ia melihat ke arahku dan tersenyum.

“Bisa, tapi tunggu saya habisin es kelapa.” Katanya asik menyendok serutan buah kelapa.

Aku menghela nafas dan mengikuti aktivitasnya.

“Sepertinya ya, kemarin kamu sedih, dan sekarang kamu kesal.” Katanya.

Aku melihat ke arahnya sekilas, “Memang.” Jawabku singkat.

“Kenapa?”

Aku bimbang haruskah aku menjawab pertanyaannya atau memilih bungkam, namun setidaknya ia akan memberitahu satu atau dua hal tentang Hakim Cipto, jadi tak ada salahnya aku memberitahu satu atau dua hal tentang apa yang ia tanyakan.

“Sahabatku, meninggal.” Kataku singkat.

Ia tersedak serutan buah kelapa dan terbatuk-batuk.

Aku melihat khawatir ke arahnya, masih untung ia tidak tersedak sendok yang ia pakai untuk makan serutan buah kelapa.

“Maaf,” katanya perlahan.

Aku tersenyum sambil menggelengkan kepala perlahan mengisyaratkan tidak apa-apa.

“Sekarang? Kalau boleh tau kesal kenapa?” tanyanya lebih hati-hati.

“Boleh, tapi tunggu es kelapa saya habis.” Kataku menirukan jawabannya sambil tersenyum.

Ia menganga dan beberapa detik kemudian tertawa. Aku ikut tertawa melihat betapa konyolnya seseorang yang baru aku temui kemarin.

Sisanya kami hanya mengobrobrol biasa, namanya Hadi Ramadhan, lahir di bulan Ramadhan ketika ibunya mengidam buah salak, ia adalah anak kedua dan terakhir dari ayahnya yang seorang dosen dan ibunya yang seorang dokter, kakaknya adalah tentara dengan pangkat yang cukup membuatku terkejut, karena dorongan orang tuanya ia harus berkuliah di tempat bergengsi, jika perlu merantau atau pergi ke luar negeri, namun ia menolak dan ingin berkuliah di Bandung, alasannya tak masuk akal, “Karena kamu akan jarang menemukan kota seadem Bandung.” Begitu katanya. Namun Hadi tidak pernah menikmati masa-masa kuliahnya, ia bahkan belum menemukan keinginannya. Hal itulah yang membuat Hadi ogah-ogahan saat berkuliah dan jauh dari kata lulus meski telah melewati waktu umum untuk lulus. Hal ini juga yang menyebabkan Hadi jarang menemui orang tuanya dan hanya bertukar kabar seadanya dengan kakaknya. 

“Tapi saya sudah menghasilkan uang sendiri.” Katanya bangga.

“Caranya?” tanyaku.

“Meski terdengar sepele dan remeh, saya sering menyanyi di cafe atau restoran atau pub, dan saya dapat uang dari situ, memang tidak sebesar gaji kakak, ayah, atau ibu saya, tapi, saya bahagia.” katanya sambil tersenyum.

Aku ikut tersenyum, “ Tidak ada pekerjaan remeh atau sepele waktu itu semua masih halal, kamu bisa hidup bergelimang harta, tapi hati kamu sengsara karena tidak bahagia.”

Ia terkejut mendengar perkataanku dan tertawa kecil, “Benar.”

Aku menolak saat Hadi mengajakku untuk berdiskusi tentang Hakim Cipto di kosannya, tapi ia meyakinkanku bahwa ia tidak akan macam-macam. Bagaimana bisa aku mempercayai dirinya setelah apa yang terjadi pada Laras dan diriku di kantor polisi, aku menyarankan diskusi ini dilakukan di rumahku, namun ia menolak karena motornya yang dipinjam Putra, teman satu kosannya, masih belum kembali.

“Percaya sama saya Sekar, kosan saya dekat, dan saya tidak akan macam-macam.” Katanya.

Aku melihat tidak percaya ke arahnya.

Ia terlihat sedang berpikir, “Oke lah, kamu tunggu disini sebentar.”

Ia berlari kecil ke luar area pertokoan sampai akhirnya menghilang dari pandanganku, entah kemana.

Setelah sekitar 10 menit, ia kembali, namun tidak sendiri.

Ia membawa beberapa orang bersamanya, ia melihat kesana kemari dan tersenyum saat menyadari aku masih menunggu di tukang es kelapa tadi.

“Sekar!” sapanya sambil berjalan mendekat diikuti beberapa orang di belakangnya.

Aku melihat heran ke arahnya, ia hanya nyengir kuda, “Ini RT kosan saya, namanya Pak Ruslan.” Ia mengenalkan seorang laki-laki yang terlihat berumur di atas 40 tahun, menggunakan kemeja kotak-kotak, dan rambut hitam senada dengan kumisnya.

“Sekar,” kataku sambil menjabat tangannya.

Aku juga mengenalkan diriku kepada orang-orang yang Hadi bawa.

Ada Ibu Neneng, istri dari Pak Ruslan, Pak Rendi, satpam kosan Hadi dan istrinya Ibu Ita, dan yang  terakhir adalah Ibu Nia, ibu kosan Hadi.

“Hadi apa ini?” tanyaku sambil berbisik dan berjinjit karena perbedaan tinggi kita.

Ia cengengesan, “Saya bawa orang-orang penting di deket kosan saya, biar kamu percaya sama saya, dan kalau saya keliatan macam-macam, kamu boleh pukul saat Sekar, saya juga minta tolong mereka untuk melakukan hal yang sama.”

“Ayo semua kita berangkat ke kosanku!” katanya semangat.

Akhirnya aku berjalan mengikuti Hadi dan mulai tenang karena keberadaan orang-orang kepercayaan Hadi. Di perjalanan aku dibombardir pertanyaan dari para ibu-ibu yang penasaran tentang aku dan Hadi. Mereka terkejut bukan main saat Hadi meminta mereka semua untuk menjemput teman perempuannya, bagaimana tidak? Hadi terkenal sebagai penghuni kosan sekaligus warga RT 03 paling tampan dan ramah. Aku hanya tersenyum kikuk dan menyanggah aku memiliki hubungan spesial dengan Hadi.

Belum 10 menit kami berjalan, Hadi yang ada di depan bersama para bapak-bapak melihat ke arahku, “Sudah sampai, Kar.”

Aku terkejut karena ternyata kosan Hadi memang sangat dekat. Menurutku kosannya sangatlah nyaman, letaknya tepat berada di pinggir jalan dan menghadap ke arah jalan, kosannya sendiri bercat putih dengan pepohonan yang rimbun.

Aku berjalan mengikutinya, Pak Rendi mengangguk kepadaku dan kembali ke pos yang berada di samping gerbang kosan, sedangkan Pak Ruslan pamit kembali untuk menghadiri rapat RT yang tertunda. Ibu Neneng, Ibu Ita, dan Ibu Nia mengantarkanku masuk ke dalam lingkungan kosan. Hadi berjalan di depanku dan berhenti di salah satu ruangan.

“Saya masuk dulu bentar, kamu bisa duduk disini.” Katanya sambil membuka pintu dan menunjuk bangku bambu panjang beralaskan bantal berwarna merah muda. Aku duduk dan memperhatikan lingkungan sekitar.

“Neng, ibu sama yang lain disitu ya, insyaallah aman disini mah, tapi kalo ada apa-apa panggil ibu.” Kata Ibu Neneng sambil menunjuk panggung kecil beralas tikar yang berada tepat di tengah halaman dan masih pada jangkauan pandanganku.

“Baik ibu, terima kasih banyak.” Kataku seramah mungkin.

Bukan bermaksud berpikiran negatif atau melupakan kebaikan mereka, namun aku yakin mereka akan membicarakan aku.

“Sekar, saya baru sadar saya tidak punya makanan yang tersisa.” Katanya tiba tiba muncul dari dalam kosan. Ia sudah melepas kemeja kotak-kotak yang ia gunakan sebagai luaran dan hanya menggunakan kaos berwarna hitam.

“Jangan repot-repot.” Kataku.

Ia mengerutkan dahinya.

“Mana Bu Neneng dan kawan-kawan?” katanya duduk di sampingku.

“Disitu.” Kataku menunjuk panggung kecil di tengah halaman.

Ia mengangguk-angguk, “Pasti sedang membuat rujak, nanti saya minta.”

“Janganlah,” Kataku melarang, “Ayo cepat, ada apa dengan beliau?”

Ia langsung mengerti aku tidak akan menyebutkan nama Hakim Cipto dan menyamarkannya dengan beliau.

“Kamu cerita dulu kesal kenapa? Siapa tau hal itu berhubungan dengan beliau.” Katanya.

Hadi orang yang sangat tajam rupanya, “Sahabatku, yang kemarin meninggal, meninggal bunuh diri.”

Ia memasang wajah terkejut.

“Ia, membunuh dirinya sendiri. Dan beliau adalah alasannya,” Aku menjeda ceritaku, “saya rasa, saya punya cukup bukti agar kasus ini setidaknya bisa ditangani, tapi ternyata tidak, jangankan ditanggapi dengan baik, saya malah dilecehkan dan ditertawakan.”

Ia melihat khawatir.

“Tapi tenang, saya punya lebih dari cukup bukti untuk melawan polisi itu.” Kataku sambil menunjukkan bekas cengkraman polisi itu yang sekarang berubah memar berwarna keunguan.

Wajah Hadi lebih khawatir dari sebelumnya, dengan mulut menganga ia memperhatikan tanganku.

“Tenang,” Kataku santai, “Jadi kamu punya informasi apa tentang beliau?”

“Waktu itu, sebelum saya ngekos disini, saya ngekos di daerah lain. Dulu ada anak namanya Arum, umurnya waktu itu masih sekitar 17 tahun atau 18 tahun saya lupa. Arum cuma sekolah sampai SD, terus berhenti karena Ibunya pergi meninggalkan dia untuk menikah  dengan lelaki dari kampung lain, tapi Arum selalu ikut belajar bersama saya atau mahasiswa lainnya. Lalu, beberapa bulan kemudian, saya harus pindah kosan karena masa berlakunya habis.” Matanya menerawang seperti mengingat kembali kejadian yang telah terjadi, “setelah beberapa bulan pindah, saya reuni kembali dengan mahasiswa di kosan saya yang lama, kemudian saya dapat kabar kalau Arum sudah tidak tinggal di daerah sana, ia diusir.”

Aku mengerutkan dahi.

“Teman-teman saya bilang, katanya Arum diusir karena buat keributan, Arum katanya menuduh ‘beliau’ memperkosanya, namun, tidak ada satupun dari warga yang percaya karena bagaimanapun ‘beliau’ sering ke daerah sana dan bagi-bagi sembako atau uang, citranya sangat baik,” ia menghela nafas, “setelah itu saya dan teman-teman saya coba mencari keberadaan Arum, dan saya baru bertemu dia beberapa bulan yang lalu. Ia sudah punya anak Sekar.”

Aku terkejut bukan main, jika benar berarti Arum melahirkan di umur 18 atau 19 tahun.

“Tapi Arum berpura-pura tidak mengenal saya, aku rasa Arum itu malu, saya tidak berani mencari tahu lebih lanjut lagi tentang Arum, namun saya sungguh benci dengan ‘beliau’ jika benar apa yang ia lakukan, maka demi apapun saya mengutuk perbuatannya,” aku bisa melihat Hadi menahan emosinya, “Saya terkejut waktu kamu mencari koran lama tentang ‘beliau’, saya takut kejadian yang sama terjadi pada kamu atau orang lain, dan ternyata dugaan saya benar. Saya menyesal, seharusnya saya coba untuk mencari tahu lebih banyak atau mencari cara untuk menghentikan dia.” Ia mengaitkan kedua tangannya dan menggenggamnya erat-erat.

Aku melihat Hadi, ternyata masih ada lelaki sepertinya di dunia yang sudah tak jelas mana hitam dan mana putih, bagiku, dunia saat ini berwarna abu, mana yang benar dan mana yang salah sudah bercampur menjadi satu.

“Saya selalu berpikir jika dunia tidak pernah adil untuk seorang perempuan.” Kataku perlahan.

“Saya selalu tidak menyukai stigma kebanyakan orang yang menjadikan seorang perempuan sebagai objek atau sesuatu yang lemah tidak berdaya. Saya beruntung karena orangtua saya mendukung keinginan saya untuk melanjutkan bersekolah ketika banyak teman saya yang dipaksa untuk menikah, katanya tidak perlu seorang perempuan bersekolah tinggi-tinggi ketika akhirnya akan kembali mengurus suami dan kembali mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Banyak laki-laki, yang berpikiran bahwa perempuan merupakan makhluk lemah dan tugas mereka adalah melindungi mereka, namun kenyataannya banyak laki-laki yang memanfaatkan kelemahan seorang perempuan. Tapi, saya rasa perempuan bukanlah makhluk lemah, meski terkadang perempuan berada di dunia yang salah. Saya selalu berpikir, memang benar, suatu hari seorang perempuan akan menikah, memiliki suami, dan memiliki seorang anak setinggi apapun pendidikan, jabatan, atau pendidikannya, ia tidak bisa melupakan kewajibannya. Namun, saat seorang anak lahir, yang menjadi guru dan sekolah pertama seorang anak adalah orang tuanya, terutama Ibunya. Saya tak pernah menyalahkan para perempuan diluar sana yang menikah muda tanpa memiliki pendidikan yang mumpuni, mereka hebat dan kuat dengan caranya masing-masing, namun seorang anak adalah penerus bangsa yang harus memiliki pondasi kuat dari orangtuanya.” Aku melihat ke arah Hadi yang serius mendengarkanku.

Aku tertawa kecil, “Perempuan bukanlah makhluk lemah tidak berdaya, perempuan bukan hanya alat untuk berkeluarga atau urusan rumah tangga, menurutku, perempuan adalah salah satu pondasi terkuat bangsa.”

Hadi menganga dan bertepuk tangan sambil mengangguk-ngangguk, “Hebat Sekar!”

“Saya memang bukan seorang perempuan, tapi jika boleh jujur, saya tidak pernah berpikiran bahwa perempuan adalah makhluk ciptaan Tuhan yang lemah Sekar.” Katanya sambil bersandar ke sandaran kursi bambu yang kami duduki, “Saya selalu berpikir, baik perempuan atau laki-laki, terlahir dari rahim seorang perempuan, bahkan orang-orang hebat pun pasti terlahir dari rahim seorang perempuan. Setelah mengandung 9 bulan, mereka melahirkan, kemudian menyusui, merawat anak mereka sepenuh hati, belum lagi mengerjakan pekerjaan rumah tangga, atau seperti ibuku yang juga bekerja.” Ia tersenyum sambil melihat ke arahku.

“Perempuan hebat Sekar dan kamu termasuk perempuan hebat yang pernah aku temui.” Katanya sambil tersenyum.

Aku ikut tersenyum, rasanya nyaman sekali bercerita dengan Hadi, laki-laki yang baru aku temui kemarin, Hadi tidak pernah menghakimi dan mencaci, ia lebih suka mendengarkan kemudian memberikan opini tanpa menjatuhkan pihak lain.

“Kamu baik Hadi.” Pujiku.

Ia terkejut mendengar pujianku, ia memalingkan wajahnya.

Ah, rupanya ia malu, aku yakin wajahnya memerah dengan sangat hingga telinga dan lehernya ikut memerah. Kami terus bertuka permikiran, tentang apapun yang terlintas dalam pikiran kami hingga matahari mulai terbenam seolah menjemputku untuk pulang ke rumah dimana orangtuaku menunggu

***

Aku pulang ke rumah membawa koran-koran bekas yang aku beli dari Pak Danu, Hadi mengajakku untuk bertemu dengan Arum besok. Ia tidak mau berlama-lama katanya, tidak baik untuk hati dan tubuhnya, kemudian aku berpamitan dengan Ibu-ibu yang asik menonton aku dan Hadi, mereka kemudian membungkuskan aku rujak buah lengkap dengan bumbunya dan berdoa supaya aku dan Hadi baik-baik saja. Aku hanya tersenyum kikuk dan dengan tidak bergunanya Hadi hanya cengengesan. Tapi harus aku akui, meski aneh dan terkadang memalukan, Hadi memang laki-laki baik yang jarang aku temui. Kebanyakan laki-laki yang aku ajak berdiskusi akan menentang apapun opiniku, menghakimi, dan berusaha menjatuhkan, kemudian emosi ketika kalah berargumen denganku.

***

Aku terbangun ketika pintu kamarku diketuk berkali-kali oleh Ibuku.

“Kar, ada temen kamu ini.” kata ibuku sambil tak hentinya mengetuk pintu kamarku.

Aku menghela nafas ketika otakku langsung memutar rutinitasku di Minggu pagi, Laras akan mengetuk pintu kamarku secara membabi buta untuk mengajak berkeliling komplek dan berakhir di rumah Haji Darto untuk makan bubur ayam. Tapi sekarang siapa yang berani mengganggu tidurku yang berharga setelah Laras tiada.

“Siapa bu?” tanyaku sambil membuka pintu.

Ibuku sudah tidak ada di depan pintu, aku celingukan mencari keberadaan ibu dan terkejut mendapatkan Hadi yang asik memakan lontong kari bersama ayahku di ruang tamu.

“Kok kamu baru bangun sih?” tanya ibuku sambil membawa lebih banyak lontong.

Ibuku kembali melewati diriku yang hanya berdiri di depan pintu, mencerna setiap kejadian.

“Cuci muka! Sikat gigi! Mandi! Itu loh pacarmu yang ganteng udah siap, masa kamu begini bentukannya?” Aku melihat ibu dengan tatapan aneh dan bingung.

“Udah sana mandi!” katanya sambil menuntunku ke kamar mandi.

Aku menurut dengan pergi mandi meski rasanya nyawaku sebagian masih berada di alam mimpi. Setelah berpakaian, aku menuju ke arah ruang tamu dimana ayah dan Hadi mengobrol dengan asik, aku cukup kagum dengan Hadi, karena bisa mengobrol normal dengan ayahku yang memiliki wajah menakutkan, yang lucunya diturunkan pada anak perempuan satu-satunya.

“Kenapa kamu baru muncul?” tanya Ayah saat melihat diriku baru muncul sambil membawa piring kosong dan sendok.

“Baru bangun, lalu tadi mandi atas perintah nyonya besar.” Aku mengambil beberapa potong lontong dan menuangkan kuah kari ke atasnya.

“Gimana ini? Masa kalah sama pacarnya?” Tanya Ayah menggoda. Aku menatap sewot ayahku yang hanya senyum-senyum, kemudian melihat Hadi yang cengengesan sambil asik memakan kerupuk.

Ingin rasanya aku jitak Hadi dengan kaleng kerupuk yang ada di hadapanku.

“Jadi mau kencan kemana ini?” tanya ibuku yang tiba-tiba muncul sambil membawa puding.

Aku tersedak lontong.

Hadi mengambil teh hangat yang ada di meja dan menyerahkannya padaku.

Mengapa ia lakukan itu? Jelaslah ibu dan ayah akan menggodaku habis-habisan.

“Terima kasih.” Kataku menerima teh hangat yang ia ambilkan.

“Jadi ingat masa lalu.” Kata ibuku sambil asik memotong puding dan menyerahkannya pada Hadi dan Ayah yang sudah selesai sarapan.

Aku melihat ke arah Hadi sambil mengangkat alisku, Hadi hanya memasang wajah bingung sambil terus mengunyah. Percuma aku memberi isyarat apapun bentuknya. Tapi baguslah, dengan ini Ibu dan Ayah tidak akan curiga dengan kegiatanku di belakang mereka.

***

“Seingat saya, kamu bilang akan jemput saya jam 10.” Kataku kepada Hadi yang konsentrasi membawa motor.

“Kok saya tidak ingat ya?” tanyanya lagi.

Aku menghela nafas, harusnya aku tahu itu jawabannya.

“Tapi hal bagus bukan? Saya jadi tau orang tua kamu.”

“Yang bagus itu bertemu dengan orang tua saya atau makan lontong kari dan puding?” tanyaku bercanda.

Hadi tertawa terbahak-bahak di atas motor kemudian aku ikut tertawa, rasa maluku berkurang seiring dengan intensitas waktu yang aku habiskan dengannya.

“Di sana Sekar rumahnya.” Hadi memberhentikan motornya di depan gang.

Hadi memarkirkan motornya di halaman warung yang berada di dekat gang rumah Arum, kemudian berjalan di depan untuk menuntunku. Kami sampai di depan rumah kecil yang terlihat sudah sangat tua dan kurang terurus.

“Ini?” tanyaku.

Ia mengangguk.

Hadi mengetuk pintu berbahan papan kayu tipis bercat coklat tua yang sudah memudar.

Kami saling berpandangan ketika belum mendapatkan balasan atau tanda-tanda kehidupan dari dalam rumah. Kami sama-sama melihat ke arah pintu ketika secara tiba-tiba pintu dibuka.

“Cari siapa ya?” tanya seorang perempuan sambil menggendong anak kecil.

Aku melihat ke arah Hadi, Hadi mengangguk.

“Arum kan?” tanya Hadi.

Gadis yang dipanggil Arum tadi melihat kami secara bergantian kemudian mengangguk.

“Saya Hadi, ini Sekar, dulu kamu sering belajar dengan saya dan teman-teman saya. Ingat?”

Arum hanya mengangguk, “Maaf, saya harus masak, terimakasih.” Arum berusaha menutup pintu rumahnya, aku menahan dengan tangan kananku.

“Ini.” kataku sambil menunjukkan potongan kertas berisi foto Hakim Cipto, aku sengaja membawa buku harian Laras dan potongan koran di dalamnya.

Arum membuang wajahnya, kemudian memeluk anaknya kuat-kuat, “saya tidak tahu siapa itu, maaf ya.”

“Sahabat saya korban dari laki-laki bejat ini, Arum.” Kataku melihatnya dengan sungguh-sungguh.

“Saya ingin mencari keadilan untuk sahabat saya, untuk kamu, dan korban lain di luar sana.” Kataku.

Arum melihatku dan melihat Hadi bergantian, “mari, masuk dulu.”

Rumah Arum tidaklah terlalu besar, ruang tamu yang merangkap dengan ruang keluarga berukuran 3 x 3 m beralaskan tikar tipis, di depan ruang keluarga terdapat satu ruangan tanpa pintu yang hanya dibatasi gorden yang aku asumsikan sebagai kamar, dan ruangan lain di belakang yang aku asumsikan sebagai dapur. Arum menawarkan minum yang aku tolak, namun Hadi terima.

“Nama sahabat saya Laras, 2 hari yang lalu Laras bunuh diri dan penyebabnya adalah Laras diperkosa dan tengah mengandung anak Hakim Cipto.” Kataku perlahan sambil menunjukkan foto Laras.

Arum melihat ke arahku sedih, ia menggenggam tanganku perlahan, “Tidak mudah kehilangan seseorang yang sangat kamu sayangi.”

Aku meminta Arum untuk menceritakan kisahnya jika ia tidak keberatan, Arum tersenyum kemudian mengangguk, namun sebelum itu ia meminta izin untuk menaruh anak yang digendongnya untuk tidur di kamar.

Arum bercerita saat itu ia harus berhenti sekolah karena ibunya meninggalkan ia sendiri untuk menikah dengan laki-laki yang baru ia temui, Arum harus bertahan hidup dengan bekerja di rumah makan kecil milik ibunya. Suatu hari, Arum bertemu dengan Hakim Cipto yang sedang membagikan sembako dan uang di lingkungannya. Rupanya, sosok Arum yang cantik dan terlihat lemah di hadapan Hakim Cipto menjadi perhatian khusus. Hakim Cipto semakin sering mengirim sembako, uang, pakaian, apapun kebutuhan Hakim Cipto. Tentu Arum senang kebutuhannya dapat terbantu, namun semua itu merupakan akar dari malapetaka, kepercayaan Arum terhadap Hakim Cipto runtuh ketika suatu malam Hakim Cipto menyelinap masuk ke dalam rumah Arum dan melancarkan aksi bejatnya. Arum yang saat itu berusia 18 tahun tidak tahu harus berbuat apa, ia hanya menangis sepanjang hari, Arum kemudian melaporkan perbuatan Hakim Cipto pada bibinya, namun bibinya tidak percaya dan menuduh Arum tidak tahu terima kasih. Arum juga sempat melapor kepada polisi, namun Arum malah dituduh sebagai perempuan tidak benar. Setelah kejadian itu, Arum dicap sebagai wanita tidak benar, mereka berkata bahwa Arum adalah perempuan kotor yang suka menggoda laki-laki.

Beberapa bulan setelahnya, Arum merasakan perubahan pada tubuhnya, Arum tidak mengindahkan hal tersebut dan fokus mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Namun rupanya, bukan hanya Arum saja yang menyadari perubahan pada tubuhnya, bibi Arum dan tetangga Arum menyadari hal tersebut. Arum diusir, tanpa pernah tahu apa kesalahannya. Arum meminta pertanggung jawaban dari Hakim Cipto, namun Hakim Cipto hanya mencaci Arum dan mengatakan Arum hanyalah gadis tidak baik yang suka menyalahkan orang lain atas perbuatannya. Hakim Cipto mengancam akan membunuh Arum dan bayinya apabila ia berani berbicara tentang apapun yang berkaitan dengan Hakim Cipto. Hakim Cipto menyewakan rumah kecil ini untuk Arum dan mengirim uang atau sembako untuk Arum tanpa pernah mengunjunginya.

“Saya sempat berpikiran untuk mengakhiri hidup saya Sekar. Namun, saya ingat, saya punya tanggung jawab terhadap nyawa anak yang tidak bersalah.” Arum mengatakan itu sambil menangis dan tersenyum.

Setelah anak Arum lahir, Hakim Cipto tak pernah sekalipun mengunjungi Arum. Banyak cibiran dari tetangga Arum, namun Arum beruntung karena ada beberapa orang baik yang membantu Arum merawat anaknya atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

***

“Sekar!” Hadi memanggil sambil melambaikan tangannya ke depan wajahku.

“Kenapa?” tanyaku terkejut.

“Kenapa melamun?” tanyanya lagi.

“Teringat Arum,” kataku sambil memasukan sepotong batagor ke mulutku. Selepas mendengar kisah Arum, aku dan Hadi menguatkan Arum dan memberi tahu rencana kami. Arum tersenyum dan mengatakan kami adalah orang baik yang sulit ditemukan di masa ini, Arum juga menguatkan aku yang kehilangan Laras. Sebelum berpamitan, aku memberikan nomor telepon rumah milikku dan nomor telepon kosan Hadi untuk memudahkan kami berkomunikasi.

“Arum hebat sekali.” Kataku.

“Memang, tapi kamu juga hebat.” Katanya santai, “jadi apa rencana yang kamu buat sudah matang?”

Aku mengangguk mantap.

“Aku dukung sepenuh hati Sekar.” Katanya sambil terus mengunyah. Setelah menangis mendengar kisah Arum, Hadi mengajakku makan batagor terenak Sebandung Raya. Dan aku akui batagor ini memang sangat enak.

“Sebenarnya Sekar, ada alasan lain kenapa saya membawa kamu kesini.”

Aku melihat ke arahnya, “apa?”

Ia menggerakan tangannya untuk mengisyaratkan aku mendekat, “di dalam perumahan itu, ada rumah ‘beliau’” Hadi berbisik.

Aku mengangguk-angguk, “terus kamu mau ngapain?”

“Mengintai.” Jawabnya singkat sambil cengengesan.

Aku menggelengkan kepalaku, pusing oleh tingkah lakunya yang sungguh tak sesuai umurnya.

“Kar, Sekar.” Hadi memanggilku.

“Apa?” tanyaku melihat ke arahnya.

Ia menunjuk seorang perempuan yang baru keluar dari gerbang perumahan.

“Aku pernah liat dia bersama Hakim Cipto.” Katanya berbisik.

Aku melihat ke arah perempuan itu dan melihat ke arah Hadi yang mengangguk mantap, kemudian aku memperhatikan perempuan itu lagi. Perempuan itu menyebrang dan berjalan ke arah kami, Hadi memajukan bangkunya seolah-olah menjagaku dari hal buruk yang dapat dilakukan perempuan itu.

Ternyata ia hanya ikut memesan batagor.

Hadi melihat ke arahku dan nyengir kuda, aku tertawa melihat aksi heroiknya yang gagal.

Perempuan itu mengenakan kemeja berwarna putih dengan blazer berwarna biru tua senada dengan rok di bawah lututnya. Perempuan itu kemudian duduk di bangku sebelahku, ia membuka sebuah buku seperti jurnal, kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Aku mencari tissue di tasku dan menawarkannya pada perempuan itu.

Ia melihat ke arahku kemudian tersenyum ramah, “terima kasih.” Kemudian mengambil beberapa lembar tissue.

“Mbak, tidak apa-apa?” tanyaku perlahan ketika melihat dirinya sudah sedikit tenang.

“Tidak, tidak apa-apa.” katanya menggeleng perlahan.

Aku melihat ke arah Hadi. Hadi mengangkat bahunya tanda tak tahu harus berbuat apa.

Mbak itu kemudian tersenyum dan izin untuk memakan pesanannya.

Aku berpikir, bagaimana? Jika benar dugaanku beliau adalah orang terdekat Hakim Cipto, maka hal ini bisa aku manfaatkan, sekali lagi aku memperhatikannya dengan diam-diam. Ia cukup terkejut dan agak sedikit gemetar ketika penjual batagor mengantarkan pesanannya, aku menduga, ia adalah salah satu korban Hakim Cipto.

Aku mencolek lengan Hadi, ia melihat ke arahku, “Saya harap, Laras bisa pergi dengan tenang.”

Hadi mengerutkan keningnya, kemudian dalam hitungan detik ia mengerti apa skenarioku, “Saya harap juga begitu, namun bagaimana bisa tenang ketika pelakunya masih bebas berkeliaran?”

Aku bernafas lega mendengar tanggapan Hadi, “memang sulit mencari kebenaran, terutama untuk rakyat kecil seperti kita.”

Mbak itu memperlambat tempo makannya, aku rasa beliau sudah mulai tertarik dengan pembicaraan ini.

“Saya harap keadilan untuk perempuan dan rakyat kecil bisa segera ditegakkan.” Hadi mengelus jenggot tipisnya.

“Namun rasanya sulit melawan orang-orang yang berkuasa.” kataku sambil memegang kepala.

Mbak itu melihat ke arah kami berdua, “Ah, maaf mbak, sahabat saya baru meninggal kemarin dan saya masih belum bisa ikhlas rupanya.”

“Saya turut berduka cita, apa saya boleh tahu apa penyebabnya?” tanyanya dengan iba.

Jackpot! Kataku dalam hati.

“Bunuh diri.” Kataku perlahan, maafkan aku Laras, aku tidak pernah berniat menyebarkan kabar kematianmu seperti ini, namun aku tidak bisa duduk diam saja menyaksikan penyebab kamu pergi masih bebas berkeliaran.

Mbak itu menutup mulutnya, “Maaf.”

Aku menggeleng perlahan, “dan mbak tau apa yang lebih miris? Pelaku penyebab sahabat saya pergi masih bebas berkeliaran dan menjalankan tugasnya, yang katanya mengadili.”

Mata mbak itu terbelalak, ia benar-benar menghentikan aktivitasnya.

“Saya harap, tidak akan ada lagi kasus seperti ini dan saya bisa membantu menegakkan keadilan untuk para korban.” Kataku melanjutkan.

“Caranya?” tanya mbak itu mulai tertarik.

“Saya punya rencana.” Kataku tersenyum, mbak itu melihatku seolah tidak percaya, aku mendekatkan bangkuku ke arahnya, “Apa mbak mau membantu saya?”

 

Bersambung ke Bertaut Bagian 3.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

PjBL dan Pendidikan, Media Pembelajaran Sejarah Berbasis TIK

 PjBL dan Pendidikan, Media Pembelajaran Sejarah Berbasis TIK Oleh: Haifa Bilqis          Pendidikan merupakan salah satu aspek kehidupan yang sangat penting dan erat kaitannya dengan kita semua. Pendidikan telah mengalami banyak perkembangan terutama di tengah era globalisasi, dimana hampir semua hal yang terjadi di penjuru dunia dapat tersebar secara cepat dalam bentuk Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Secara tidak sadar, kolaborasi antara pendidikan dan TIK telah banyak digunakan dan diman faatkan di dalam kehidupan sehari-hari sehingga menciptakan model pembelajaran baru. Dari perkembangan teknologi ini, SMA Negeri 2 Cimahi mengembangkan sebuah model pembelajaran yang melibatkan teknologi dan suatu proyek dalam proses pembelajaran atau dikenal dengan Project Based Learning (PjBL) dalam berbagi bidang, salah satunya adalah bidang pendidikan. Perkembangan TIK dan Pendidikan yang selaras menciptakan sebuah media pembelajaran baru yang dapat di...