Bertaut
Aku membubuhkan titik di akhir tulisanku dan bernafas lega, rasanya titik tadi merupakan tanda tangan perjanjian damai perang dunia, namun kenyataanya titik tadi hanyalah akhir dari tugasku yang telah digarap selama 3 malam. Akhirnya, selesai juga. Aku melihat ke arah luar jendela kosanku, masih hujan rupanya, aku rasa semesta ikut menangis melihat diriku yang jarang tidur teratur dan hanya memakan mie instan belakangan ini ketika menggarap tugas. Namun, apa ya? Rasanya perasaanku tidak enak, ada sesuatu yang membuat diriku tidak nyaman, entah karena udara Jakarta yang panas, entah karena suara hujan yang keras, entahlah, rasanya ada sesuatu yang tidak beres.
Aku merebahkan tubuhku di kasur dengan kasar sehingga terdengar derit kayu dari bingkai kasurku. Aku membuka album foto yang aku bawa dari Bandung atas saran Laras, sahabatku sejak SMP, katanya agar aku tak pernah merasa sendiri dan selalu ingat ada banyak orang yang menungguku pulang di Bandung. Aku tersenyum mengingat ide konyolnya, namun aku merasa lebih konyol ketika memutuskan untuk mengikuti idenya. Aku membalik halaman demi halaman dan tertawa ketika melihat foto kami berdua di bawah pohon jambu milik Ibu Laras, Laras menangis karena Jaka, lelaki terkeren, tertampan, dan terpintar yang menjadi kekasihnya untuk 3 hari memutuskan Laras secara sepihak. Laras menangis dan bertanya, “Sekar, apa ini karma dari Allah karena kemarin aku lupa mengaji?”, maafkan aku Laras tapi aku malah tertawa mendengar pertanyaan itu.
Laras adalah gadis mungil dengan rambut ikal lebat hitam yang selalu tersenyum, bahkan kepada rerumputan di halaman rumahnya, sedangkan aku adalah sosok gadis berambut coklat terang dengan wajah yang sering mendapat komentar jahat atau dingin darinya. Aku akui Laras bukanlah si jenius dengan nilai 100 di tiap mata pelajaran, namun Laras adalah sosok paling gigih yang pernah aku temui, ketika ia ingin sesuatu, ia akan berusaha untuk selalu mencapainya. Hal itu juga yang menjadi alasan kami harus menetap di kota yang berbeda untuk bersekolah, aku di Jakarta mengejar mimpiku menjadi penulis dengan berkuliah jurusan Sastra Indonesia di salah satu perguruan tinggi negeri, dan Laras di Bandung, kota kelahiranku, mengejar mimpinya sebagai seorang penari jaipong profesional dengan meneruskan sekolahnya ke salah satu sekolah seni. Sebelum masa sibuk seperti belakangan ini, kami biasa berkomunikasi melalui telepon umum koin yang ada di depan kosanku atau saling bertukar surat, sederhana, hanya menceritakan hari-hari kita seperti sebelumnya, namun rasanya surat atau kabar darinya dapat membawaku pulang ke Bandung, seolah aku sedang berbincang dengannya di depan teras rumah sambil minum teh hangat dan gorengan istimewa buatan Ibu Laras.
Aku menutup album foto dan membalikkan tubuhku untuk melihat ke arah jendela kosan lebih jelas lagi.
Tok..tok..tok.
Aku melihat ke arah pintu kosan.
“Masuk, pintunya gak dikunci.” Kataku tanpa beranjak dari posisiku.
Seseorang membuka pintu kamar, Karin, teman satu kosanku dan teman satu kuliahku rupanya.
“Kenapa Rin?” tanyaku sambil duduk di pinggir kasur menyambutnya.
Karin tidak masuk ke dalam kamarku, hanya berdiri di depan pintu yang setengah terbuka sambil berkata, “Ada telepon buat kamu, Kar.”
Aku bangkit dari dudukku dan mengikuti Karin yang berjalan menuju ke arah telepon umum di depan kosan. Apa ini Ibu? Tapi baru kemarin sepertinya Ibu meneleponku. Laras? 2 minggu yang lalu ia mengatakan ada ujian tari dan ingin lebih serius hingga tak akan bisa sering menghubungi.
Pikiranku yang berkecamuk berhenti ketika aku melihat kotak telepon umum di hadapanku, Karin tersenyum dan menepuk pundakku kemudian izin untuk masuk ke dalam kamarnya, ada apa ini?
“Halo?” sapaku singkat.
“Sekar, ini Ibu.” Suara familiar di ujung telepon memberikan sinyal pada otakku untuk segera menafsirkan suara itu sebagai suara ibuku.
“Kenapa bu?”
Terdapat sedikit jeda sebelum Ibu menjawab pertanyaanku, “Bisa pulang kesini nak?” tanya ibuku dengan suara parau.
Aku mulai bingung karena bukan hal yang biasa ketika ibuku meminta diriku untuk pulang di tengah semester, dan aku yakin ibuku tahu akan hal itu, “Ada apa bu?”
Ibuku mulai terisak.
“Bu?” tanyaku mulai panik.
“Sekar, pulang nak sebentar.” Katanya sambil terus menangis.
Hatiku terenyuh mendengar isakan ibuku, “Ibu, Sekar usahain pulang, tapi Ibu kasih tau kenapa, biar Sekar tenang.”
Ibuku masih terisak, ia mulai mengatur nafasnya, setelah jeda yang cukup panjang, ibuku mulai berkata.
“Sekar, Laras pergi nak, gak akan pulang lagi.”
Aku terdiam untuk beberapa saat untuk mencerna kalimat Ibu.
Selanjutnya dadaku sesak, mataku mulai kabur oleh air mata, aku merasakan telapak tanganku basah dan sekujur tubuhku gemetar. Sesak, aku tak bisa bernafas. Aku menyandarkan diriku ke kaca yang ada di belakangku, telepon umum masih berdering dengan suara ibuku yang terus memanggil namaku. Aku terus melihat ke arah telepon yang jatuh dan tertahan oleh kabel, nafasku tak beraturan. Aku terduduk, menelungkupkan kepalaku ke lutut dan mulai menangis seperti Laras yang menangis karena putus dengan Jaka. Pandanganku kabur, mataku panas, suaraku tercekat dan aku tak bisa berbicara selain menangis.
Aku menangis meraung-raung di dalam kotak telepon umum. Aku menangis seolah tak ada hari esok untuk menangis. Aku menangis seolah tangisanku bisa membawa Laras kembali. Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku, merasakan panasnya air mataku yang terus mengalir tanpa bisa berhenti.
Telepon terputus setelah beberapa menit.
Aku menghapus air mataku dengan kasar, meletakkan telepon kepada tempatnya, dan berjalan keluar dari kotak telepon umum.
Aku menarik nafas dan membuangnya secara kasar, menghirup wangi tanah dan sadar hujan telah berhenti. Aku berjalan ke arah kamarku. Hampa. Sangat hampa, rasanya sebagian dari diriku telah berevaporasi bersamaan dengan hujan. Apa yang Ibu bilang tadi? Kenapa Ibu menyuruhku pulang? Rasanya ada sesuatu yang membuat otakku berhenti untuk memikirkan perkataan Ibu di telepon, namun hatiku berkata bahwa aku harus pulang.
Aku mengemasi barang-barangku, mengetuk pintu kamar Karin dan meminta tolong kepadanya untuk memberitahu dosen bahwa aku harus pulang untuk beberapa hari atau mungkin minggu karena kerabatku meninggal. Tunggu, siapa yang meninggal? Karin hanya memelukku dan berkata, “Sekar, yang tabah ya.” Aku mengangguk dan berterima kasih kemudian berpamitan kepada Karin dan setiap orang yang aku lalui.
Disinilah aku, duduk di samping jendela kereta sambil menikmati pemandangan yang ada. Mataku sembab dan mukaku masih merah. Aku menikmati hembusan angin dari jendela yang kubiarkan terbuka, menikmati hamparan sawah dan rumah-rumah yang seakan mengejarku, aku menyandarkan punggungku ke bangku, menutup mataku dan berharap bisa tertidur meskipun dalam waktu yang singkat, tak peduli seramai apa di dalam kereta ini, aku harap aku bisa menutup mataku dan terbangun dalam mimpi dimana sekarang dan nanti semua akan baik-baik saja.
Aku terbangun tepat saat kereta berhenti di salah satu stasiun di kota Bandung. Aku menunggu beberapa menit sebelum turun agar tidak berdesakan dengan penumpang lain, sampai akhirnya aku merasakan perih yang teramat sangat di perutku.
Kenapa harus sekarang sih? Caciku pada perut dan penyakit maag yang tiba-tiba kambuh begitu saja. Aku turun secara perlahan dan duduk di salah satu bangku yang ada di peron sambil memegangi perutku. Inilah mengapa, ayahku selalu mewanti-wanti diriku untuk makan dengan benar dan selalu tepat waktu. Aku mulai mengatur nafasku dan mensugestikan diriku bahwa perutku dan aku baik-baik saja.
Aku berjalan secara perlahan sambil terus memegangi perutku dan melihat warung kecil di depan pintu masuk stasiun. Tanpa berpikir 2 kali aku mendatangi warung tersebut untuk membeli sebotol air dan obat maag. Aku mengunyah obat maag tersebut dan meminum beberapa teguk air kemudian memutuskan untuk beristirahat beberapa saat sampai kondisi lambungku membaik.
Aku melihat ke sekitarku. Matahari telah bersiap menjalankan tugasnya di belahan dunia yang lain, Tuhan seolah menumpahkan cat berwarna jingga untuk menghiasi langit sore, selamat datang swastamita, kataku dalam hati. Kapan terakhir kali aku pulang? 4 bulan yang lalu? 5 bulan yang lalu? Aku lupa kapan tepatnya, tapi seingatku, Laras selalu menjemputku tepat di pintu stasiun sambil membawa karton besar bertuliskan namaku. Aku tersenyum mengingat hal tersebut.
Ibuku selalu berkata, aku adalah anak yang jarang menangis. Bahkan, saat aku dilahirkan, aku hanya menangis beberapa menit dan tertidur begitu saja. Atau cerita yang selalu ibuku ceritakan untuk membuktikan seberapa jarangnya aku menangis adalah ketika aku terjatuh dan lututku sobek hingga kakiku bersimbah darah, aku hanya muncul di depan pintu rumah sambil berkata, “Bu, Sekar jatuh tadi.” Ibuku panik dan membawaku ke rumah sakit terdekat, sedangkan aku asik memperhatikan sobekan di lututku yang menganga. Atau saat Hurhur, kucing kesayanganku meninggal karena sudah tua, aku hanya menangis sekitar beberapa menit sambil berjongkok di halaman rumah meratapi kepergian Hurhur, kemudian bangkit sambil berkata “Tidak apa, Hurhur kucing baik jadi dia akan baik-baik saja. Ayo, kita ikhlaskan.” Ibuku yang menangis karena meskipun suka mencuri ikan dan ayam masakan Ibuku, Hurhur tetap kucing kesayangan keluarga kami, terkejut bukan main, apalagi mengingat umurku masih 4 tahun pada saat itu. Ibuku akhirnya sering bertanya kepada dokter atau orang-orang yang dianggapnya mengerti tentang kesehatan atau perilaku seorang anak, ibuku takut ada yang salah dengan diriku, namun lihatlah, aku tumbuh sehat dan kuat, meski terkadang pinggangku sakit ketika diajak marathon mengerjakan tugas.
Aku meminum beberapa teguk air lagi untuk meringankan maag yang masih terasa menusuk lambungku, aku terlalu asik menjelajah dalam pikiranku sampai baru menyadari ada kedai bakso kecil tepat di sebelah warung ini lengkap dengan bangku dan meja di depannya. Tepat di sampingku, duduk lelaki jangkung dengan brewok tipis dan kacamata yang sedikit melorot seiringan dengan kepalanya yang terus menunduk untuk menikmati semangkuk bakso hangat yang hampir habis di hadapannya. Aku mencoba untuk tidak memperhatikannya, karena bagaimanapun hal tersebut kurang sopan. Namun, karena letaknya yang berada tepat di sampingku, rasanya secara tak sadar mataku terus mengikuti gerak-geriknya.
Ia berdiri dan menyerahkan mangkuk baksonya yang telah kosong saat itulah aku menyadari dompetnya terjatuh tepat di hadapanku, ia kembali ke bangku di sampingku dan menghabiskan teh hangat sambil mengangguk-angguk seolah teh hangat itu adalah air yang ia temukan di tengah gurun saat ia kehausan. Aku melihat ke arahnya, menunggu ia sadar barang berharganya jatuh, namun nihil, ia asik minum teh hangat tersebut dan meminta segelas teh hangat lagi. Aku mengambil dompet hitam yang aku yakini adalah miliknya dan memanggilnya perlahan.
“Pak.” panggilku perlahan, ia masih asik minum teh dan kini ditambah kegiatan memakan kerupuk.
“Pak,” panggilku sedikit lebih keras, ia masih tidak bergeming.
“Pak!” panggilku lebih keras, ia melihat ke arahku dan menunjuk dirinya sendiri.
“Ke saya?” tanyanya.
Aku mengangguk, “dompetnya jatuh pak.” Kataku sambil menyodorkan dompet hitam yang aku ambil tadi.
Ia mengecek saku belakang celana jeansnya dan menerima dompet yang aku sodorkan, ia membuka dompetnya untuk memastikan apakah dompet tersebut adalah dompet miliknya atau bukan, ia bernafas lega ketika mengetahui dompet tersebut adalah miliknya.
“Makasih banyak ya, teh.” Katanya ramah sambil tersenyum.
Aku baru menyadari alisnya sangat tebal namun hebatnya bisa sangat rapi. Dan hidungnya sangatlah mancung, aku yakin, mudah baginya untuk melihat ujung dari hidungnya saat ia menunduk, “Sama-sama pak.” Kataku ikut tersenyum ramah.
Ia memperhatikan wajahku selama beberapa detik, “Ah!” katanya semangat.
Aku melihat ke arahnya dan mengangkat alisku yang kehilangan harga dirinya beberapa detik yang lalu.
“Kamu anak kampus X di Jakarta ya?” tanyanya semangat.
Aku mengernyit dan mengangguk, karena bingung namun hal yang dikemukakannya merupakan fakta.
“Kamu kenal saya?” tanyanya penuh antusias.
Aku melihat dengan seksama ke arahnya dan menggeleng perlahan, entah otakku yang mogok bekerja atau mungkin memang aku tak pernah melihatnya, “Bapak, dosen yang ngajar?” tanyaku ragu-ragu.
Ia tertawa terbahak-bahak membuat semua perhatian tertuju padanya, sungguh, mengapa aku selalu dikelilingi orang-orang tak tahu situasi seperti beliau sih?
“Bukan, saya bukan dosen, saya mahasiswa di kota ini.” katanya selepas berhenti tertawa.
Aku mengernyitkan dahiku lebih keras, bukan bermaksud menyinggung, tetapi wajahnya lebih cocok menjadi seorang dosen dibandingkan mahasiswa, “Kok bapak bisa tahu saya mahasiswa kampus X?” tanyaku mengalihkan pikiran tidak baikku.
“Waktu itu saya pernah liat kamu di seminar Pak Erwinto.” Katanya.
Aku mengangguk-angguk karena memang benar aku pernah mengikuti seminar Pak Erwinto bersama teman-teman sejurusan dan teman-teman satu organisasi.
“Bapak tertarik juga sama sastra?” Tanyaku.
Dia mengangguk kecil, “Tertarik, meski gak terlalu, saya cuma nyari alasan buat bisa bolos kuliah.”
Aku melihat aneh ke arahnya, manusia macam apa yang bolos kuliah sampai ke luar kota? “Hebat Pak.” Kataku canggung menanggapi alasannya.
Dia tertawa kecil menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapi, “Saya juga kan masih mahasiswa, saya yakin saya cuma beberapa tahun lebih tua dari kamu, masa manggil Bapak?” tanyanya.
Aku melihat canggung ke arahnya dan tersenyum kikuk, “Om?” tanyaku.
Untuk kedua kalinya ia tertawa terbahak-bahak.
“Ahahaha. Kamu lucu!” katanya sambil terus tertawa. Aku melihat sekelilingku dan meminta maaf dengan gestur tangan kepada orang yang aku rasa merasa terganggu dengan tawa Jokernya. Ia membuka dompetnya dan mengeluarkan selembar kartu yang aku asumsikan sebagai kartu tanda mahasiswa dan menunjukkannya padaku.
“Lihat, saya mahasiswa juga kan?” tanyanya percaya diri sambil menunjukkan kartu tanda mahasiswa yang aku yakini asli.
Aku mengangguk dan berdoa agar lambungku bisa membaik secepatnya supaya aku bisa cepat pergi.
“Saya Hadi,” katanya mengulurkan tangan kanannya.
Aku melihat ke arahnya dan mendapati ia tersenyum ramah, aku membalas uluran tangan kanannya, “Sekar.”
Ia mengangguk-angguk senang seperti anak kecil.
“Hadi!” panggil seseorang.
Ia melihat ke asal suara tersebut.
Ia melihat ke arahku, “Sekar, saya pergi dulu ya, hati-hati di Bandung banyak copet.” Ia berdiri kemudian melambaikan tangannya sambil tersenyum ke arahku. Aku hanya mengangguk perlahan. Aku berdiri dan beranjak pergi ketika rasa sakit di perutku mulai menghilang. Matahari semakin tenggelam, jingga di langit kini berbaur dengan ungu dan awan yang saling berkejaran, sayup-sayup terdengar adzan maghrib berkumandang seolah memanggilku untuk menepi dan menjalankan kewajibanku. Kota ini adalah rumahku, orangtua yang menungguku adalah rumahku, dan Laras adalah rumahku, namun semua adalah fana, tak ada yang abadi selain Tuhan Yang Maha Esa, dan aku, ciptaannya yang tak berdaya suatu hari akan pulang ke rumah yang sesungguhnya untuk selamanya.
Aku turun dari taksi. Menyaksikan rumah sahabatku dipenuhi oleh banyak orang. Menangis, sebagian besar dari mereka menangis. Entah beruntung atau kurang beruntung ketika kamu menemukan orang yang linglung dengan mata sembab dan rambut acak-acakan di pemakaman orang terdekatnya sama seperti diriku.
“Sekar!” panggil seseorang.
Ibuku berjalan dengan tergesa dan memeluk erat diriku, aku membalas pelukannya dan membenamkan wajahku di pundaknya.
“Nak, kamu yang kuat ya nak.” Katanya sambil menangis terisak dan terus mengelus rambutku.
Sesosok lelaki dengan peci hitam berjalan ke arahku dan memelukku, tubuhnya yang lebih tinggi dari diriku namun tidak segagah dulu masih menjadi pelindung untukku, Ayahku memeluk diriku dan mengelus rambut sebahuku. Ia melihat ke arahku dan tersenyum, matanya merah, aku yakin beliau sempat menangis, “Sekar, tidak apa-apa.” katanya singkat.
Aku melihat ke arahnya dan tersenyum sambil mengangguk.
Sungguh, aku tidak menangis seperti beberapa jam sebelumnya. Energiku seolah terkuras dan otakku memilih melindungi diriku dari kesedihan dengan berhenti mencerna setiap hal yang terjadi.
Aku berjalan perlahan memasuki rumah tua bercat putih yang sudah usang, berdesakkan dengan beberapa orang.
Di tengah ruangan, terbujur kaku sebuah tubuh yang sudah kehilangan nyawanya, tertutupi oleh kain putih dan kain jarik milik Ibu Laras.
Aku duduk bersimpuh, melihat tubuh itu. Menunggu.
Apa yang aku tunggu? Jelas tubuh milik sahabatku ini tidak akan bisa bergerak lagi.
Aku melihat ke sekelilingku, dan mendapati banyak orang menangis dan beberapa diantaranya menenangkan tangisan dari orang yang bersangkutan.
Sesosok wanita keluar dari kamar yang dibatasi gorden berwarna merah tua. Ia tersenyum ke arahku dan berjalan tergesa ke arahku kemudian memeluk diriku.
“Sekar. Sekar baru sampai ya nak? Maaf ya, Sekar pasti cape, Sekar mau minum?” tanyanya ramah seperti biasa.
Aku melihat ke arahnya sambil menggeleng pelan, tubuh yang ada di hadapan kami, adalah tubuh anak kandungnya sendiri, tubuh anaknya yang ia besarkan selama 21 tahun, tapi mengapa ia malah berbicara seperti itu?
“Bu,” kataku perlahan sambil melihat ke arahnya, “Laras.”
Ia melihat ke arahku, senyum ramah yang ada di wajahnya perlahan pudar, ia mulai terisak dan menangis histeris sambil memelukku.
Pikiran dalam otakku pecah, ia mulai mencerna semua hal yang terjadi secara berurutan. Laras, Laras sahabatku sejak SMP sudah tiada, ia tidak akan bisa kembali, ia tak akan menjemput aku pulang lagi, ia sudah tidak akan bercerita kesehariannya lagi, ia tidak akan tersenyum dan tertawa lagi, ia sudah pergi, tidak akan ada esok hari bersama Laras lagi. Tangisku pecah bersamaan dengan tangisan Ibu Laras yang semakin kencang.
Aku merasakan pelukan lain dari Ibuku yang menenangkan aku dan Ibu Laras sambil menahan tangisannya sendiri.
Tuhan, salah satu rumahku kini telah berpulang.
Aku melihat ke arah tubuh itu, tubuh Laras.
“Laras, maaf, laras.” Kataku sambil terus menangis.
Aku terus menangis sejadi-jadinya. Walaupun aku tau, menangis tak akan membawa Laras kembali dan Laras akan marah ketika melihat diriku menangis karenanya. Tapi aku ingin menangis, agar semesta tau dibalik wajahku yang galak dan dingin ini aku adalah manusia biasa.
Aku hampir tidak bisa membuka mataku, Ibu menyuguhkan teh hangat. Aku tidak terlalu ingat apa yang terjadi di rumah Laras, aku hanya bisa menangis dan menangis. Aku melihat wajah Laras untuk terakhir kalinya, kulitnya pucat dan bibirnya yang selalu tersenyum itu sudah tidak bisa tersenyum lagi. Yang mengiris hatiku adalah bekas guratan tali berwarna keunguan yang melingkar di leher Laras. Salah satu tetanggaku, Pak Januar, berkata bahwa jenazah Laras akan dimakamkan besok pagi di pemakaman umum dekat rumah.
Aku merebahkan tubuhku yang lelah, pikiranku kalut. Kenapa Laras membunuh dirinya sendiri? Mengapa ia tak pernah menceritakan apapun tentang masalahnya? Aku membenamkan wajahku di bantal. Aku ingin mencoba tidur dan berharap esok hari ketika aku membuka mata, ini semua hanyalah mimpi buruk dan Laras akan mengajakku membeli bubur Haji Darto di depan komplek rumah.
“Sekar?” panggil ibuku dari balik pintu.
Aku bangun dan segera membuka pintu.
Aku kemudian duduk kembali di pinggir kasur, Ibu masuk dan duduk di sampingku.
“Ibu Laras minta kamu baca buku ini,” Ibu menyodorkan buku bersampul coklat kepadaku, “katanya tidak apa-apa tidak dibaca sekarang, yang penting baca ini kalau kamu siap ya nak.”
Aku menerima buku itu, aku yakin ini adalah buku harian milik Laras.
Ibu berdiri dan mengelus rambutku, “Kamu istirahat ya, Ibu ada di dapur kalau perlu apa-apa.”
Aku mengangguk dan melanjutkan observasi terhadap buku itu.
Aku gelisah, haruskah aku membuka buku ini? Meski Laras sudah tidak ada, buku ini adalah buku harian Laras. Aku menimbang-nimbang keputusanku, dan akhirnya rasa moralku kalah karena rasa penasaran yang menggebu-gebu.
Aku membuka halaman pertama buku itu.
Buku Laras Purbawati, 1985.
Jangan dibuka, apalagi sama Ibu.
Aku tersenyum, karena 2 kalimat ini sungguh mencerminkan Laras. Berarti buku ini, Laras buat ketika umurnya masih 10 tahun, aku tersenyum mengingat Laras yang bercerita dengan sombong ketika pertama kali lancar menulis di ulang tahunnya yang ke 6 tahun.
Aku membuka halaman selanjutnya.
17 Maret 1985
Aku sengaja meminta Ibu untuk membelikan aku buku sama seperti buku yang Sekar miliki.
Kenapa sih Sekar tidak mau menunjukkan isi bukunya? Kalau begitu aku beli saja buku yang sama kemudian aku rahasiakan isinya, biar Sekar juga kesal denganku.
Sudah dulu ah, aku tidak bisa menulis atau membaca banyak-banyak seperti Sekar. Aku bisanya makan banyak-banyak dan menari banyak-banyak.
Aku tersenyum melihat isi tulisan Sekar. Ternyata itu alasannya tidak mau berbicara padaku selama seminggu.
Aku membuka halaman selanjutnya.
26 Mei 1980
Hari ini aku putus dengan Jaka, iya, Jaka yang keren itu. Katanya ia ingin fokus berlatih untuk kejuaraan sepakbola di RW, tapi kemarin aku melihatnya bersama dengan Juni, anak kelas sebelah.
Sekar hanya tertawa, ia bilang lelaki yang baik bisa menyortir prioritasnya juga dengan baik. Jaka belum menjadi lelaki yang baik. Aku bertanya, “kenapa kamu bilang belum? Jaka memang bukan lelaki yang baik.” Sekar tertawa, “Usia memang bukan indikator dewasa atau tidaknya seseorang Laras, namun kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dengan Jaka seiring dengan usianya yang bertambah.”
Aku tidak bisa mengerti apa perkataan sahabatku, aku kira ini adalah karma karena aku lupa mengaji bersama Pak Haji Darto kemarin sore.
Aku tersenyum lagi, ternyata Sekar 6 tahun yang lalu bisa berkata hal seperti itu.
Aku membuka lembaran selanjutnya, dan menyadari bahwa Laras hanya menulis di buku hariannya ketika sedang sedih saja atau kesal. Aku membalik beberapa halaman dan mencari halaman yang lebih dekat dengan tahun ini.
13 Februari 1984
Aku ingin melanjutkan mimpiku sebagai penari di sini, aku juga berhasil diterima masuk di sekolah seni Y.
Tapi aku harus berpisah dengan sahabatku, ia ingin melanjutkan mimpinya sebagai penulis di ibukota. Aku tidak mau, dan tidak pernah mau berpisah dengan orang kesayanganku. Tapi Ibu bilang, perpisahan adalah salah satu anak tangga menuju kedewasaan. Aku baru bisa dewasa ketika aku bisa hidup tanpa seseorang yang tumbuh bersamaku.
Sekar, lihat saja, aku akan membuat kamu yang seorang penulis hebat nanti menulis tentang kehidupanku.
Aku tersenyum lagi dan lagi.
Aku membuka lembar berikutnya, kosong, hanya terdapat kertas kusut, sekaan Laras meremas kesal kertas tersebut.
Aku membuka lembar selanjutnya.
22 September 1995
Ibu, sakit.
Jahat.
Laras harus gimana ini?
Mahkota Laras sudah direnggut paksa.
Laras takut, Laras harus bilang ke siapa?
Laras gak mau bikin Ibu sedih, ibu sudah cape kerja keras untuk Laras.
Sekar, cepat pulang Sekar, kapan ujianmu selesai? Tapi apa mau kamu masih berteman dengan aku yang sudah kehilangan kehormatannya sebagai wanita?
Jahat, aku hanya ingin pulang ke rumah, kenapa lelaki itu sungguh biadab?
Apanya yang hakim? Apanya yang orang baik? Ia hanya lelaki menjijikan.
Aku harus bagaimana ini?
Tanganku gemetar melihat tulisan Laras. Tulisan Laras tidak serapi tulisan lainnya, terdapat bekas tetesan air mata yang membuat beberapa tinta meluber, aku yakin Laras menangis menulis tulisan ini. Tanpa dijelaskan dengan banyak kata aku tau apa yang terjadi pada Laras. Hatiku hancur rasanya. Hakim? Hakim mana ini?
Aku membuka lembar selanjutnya.
30 September 1995
Aku tak bisa lupa kejadian itu, bagaimana tangan kasar dan kotornya menggerayangi tubuhku.
Apa salah jika tubuhku lemah dan tak bisa berontak?
Ia menyalahkan diriku.
Ia menuduh aku menggodanya.
Sungguh, demi apapun aku tak pernah berniat menggoda siapapun terutama lelaki jelek, pendek, dan buncit sepertinya.
Ya Allah, aku harus apa?
Aku menggigit bibir bawahku, menahan air mata yang sudah terbendung agar tak mengalir.
Aku membuka lembar selanjutnya.
30 Desember 1995
Apa aku harus pergi?
Namun badanku sudah menjadi dua.
Tak sudi ku ucapkan, tetapi ada anak dari hakim itu yang kukandung.
Ya Allah, bantu hamba.
Bagaimana jika Ibu harus menanggung malu karenaku? Namun apa itu salahku? Apa salah terlahir menjadi seorang perempuan? Apa salah terlahir dengan fisik yang lemah?
Aku terus membuka lembar selanjutnya, kebanyakan dari lembar selanjutnya hanyalah kertas kusut atau bekas air mata yang jatuh. Aku menemukan tulisan terakhir di buku hariannya, tanpa tanggal ataupun tahun.
Ibu maaf.
Sekar maaf.
Pak Rudi dan Bu Lita maaf.
Aku takut, kalian menanggung malu karena aku.
Tidak apa ya? Aku pergi sedikit lebih cepat dari kalian.
Ibu, Laras sayang, sayang sama Ibu lebih dari apapun yang ada di dunia ini. Maaf, Ibu belum bisa liat Laras menari di Istana Merdeka. Maafin Laras ya bu.
Pak Rudi, Ibu Lita, maafin Laras ya pak, bu. Laras selalu menganggap kalian berdua sebagai orangtua Laras, tapi maaf Laras memilih untuk menyembunyikan hal ini. Lara sayang sama kalian.
Sekar. Sekar apa kabar? Maafin aku ya Sekar. Aku bukan perempuan hebat dan kuat seperti kamu, Sekar. Suatu hari nanti, aku tau kamu akan melihat buku ini dan aku tau kamu perempuan pintar yang akan sadar apa yang terjadi padaku begitu membaca buku ini, Sekar, kamu benar, umur bukanlah indikator kedewasaan seseorang, karena jika boleh, aku ingin mengubur hakim itu hidup-hidup atau mengaraknya keliling Bandung agar semua orang tahu kebusukannya. Tapi aku tak bisa Sekar. Aku hanya seorang perempuan tak berdaya dan rakyat biasa.
Maafkan aku juga untuk anak yang ada di dalam rahimku, maafkan aku tak kuat untuk menghadapi apa yang terjadi ke depan.
Sekar, aku tahu kamu akan berbuat sesuatu.
Jangan Sekar.
Terlalu bahaya untuk orang seperti kita.
Ikhlaskan aku Sekar.
Aku percaya karma, meski aku tak pernah melihat karma untuknya ada. Tapi tidak apa, aku bisa menunggu.
Aku sayang, benar-benar sayang kalian.
Maaf aku harus membuat kalian bersedih.
Laras.
Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku.
Jawabanku terjawab semua.
Mengapa Laras mengakhiri hidupnya? Mengapa Laras tak pernah cerita apapun? Mengapa Laras sering menghilang belakangan ini?
Aku mencoba membuka lembar-lembar selanjutnya untuk menemukan tulisan Laras yang lain. Beberapa lembar kertas terjatuh.
Aku menunduk mengambil kertas yang terjatuh tadi.
Kertas tersebut merupakan beberapa potongan dari koran.
Aku membaca judul dan isi dari potongan kertas tersebut.
“Hakim Cipto Sang Pengadil di Kota Kembang”
“Hakim Cipto, Hakim Hebat”
“Hakim Cipto Kebanggan Kota Bandung”
Aku mengerutkan dahi. Hakim Cipto?
Hakim Cipto? Aku terus mengulang nama itu, otakku mulai bekerja keras menemukan semua yang berhubungan dengan nama itu.
Hakim Cipto!
Aku pernah mendengar nama itu berkali-kali. Ia sering dipuja-puja karena sering mengadili kasus-kasus besar di kota ini, belum lagi citranya yang bagus karena sering mengadakan acara sosial dan membantu rakyat-rakyat kecil. Hakim Cipto itu?
Aku membaca potongan koran itu berkali-kali, memastikan nama dan orang yang aku baca adalah Hakim Cipto itu. Aku membenarkan kacamataku dan membersihkannya dengan bajuku agar memastikan aku tak salah baca. Tapi aku tak salah baca, ini adalah Hakim Cipto yang sering kudengar itu.
Aku menyimpan buku Laras perlahan. Menutup mulutku yang menganga oleh tangan kananku.
Aku melihat buku Laras yang tergeletak di atas kasurku.
Apa yang harus aku lakukan Laras? Aku bukanlah seseorang yang akan diam dan mengikhlaskan kamu begitu saja, aku bukanlah orang baik karena darahku mendidih mendengar alasan meninggalnya kamu adalah lelaki biadab itu. Tapi kamu bilang aku harus mengikhlaskan kamu, dan aku yakin kamu tak akan tenang melihatku seperti ini.
Aku membuang kasar nafasku.
Menyimpan kacamataku di meja dan mengambil sebuah foto. Foto kelulusan kami saat SMA.
Aku melihat foto itu, melihat wajah Laras dengan senyum lebarnya dan rambut ikalnya yang digulung. Sahabatku kehilangan nyawanya dan harus menanggung trauma selama hidupnya karena seorang lelaki yang tidak bermoral, dan aku yakin, lelaki itu malam ini sedang menjalani hidupnya seperti hari-hari sebelumnya tanpa merasa bersalah. Dan aku harus ikhlas? Maafkan aku Laras, kamu tau betapa keras kepalanya aku, sama sepertimu, aku tidak akan pernah berhenti untuk mencapai sesuatu yang aku mau.
Bersambung ke Bertaut Bagian 2.
Bagus banget! Semoga cerita selanjutnya bisa lebih baik ya!
BalasHapusKeren banget !
BalasHapusCeritanya Mantap, gk sabar nunggu bagian selanjutnya
BalasHapusCeritanya sangat menarik, tidak membuat pembaca merasa bosan. Penggunaan bahasa dan katanya pun sudah tepat. Semangat!
BalasHapusWhoa, dari awalnya aja udah kebawa suasana nih. bagus deh!
BalasHapusKeren abis, penulisan nya membuat saya terbawa suasana dan seakan akan berada di sana. Mantapp
BalasHapusalur ceritanya bagus sekali dan tidak membosankan!
BalasHapusCIPTOOOOOOOO!!!
BalasHapusKembali lagi ke cerita bagian kesatu untuk komen setelah baca lengkap semua bagiannya. This is so amazing, ceritanya bagus banget. Suasananya kebawa sampe sini & ga bikin bosen, dari mulai pembangunan ceritanya dan sebagainya, KEEP IT UP
BalasHapusCeritanya mantap sekalii, kalimat ceritanya juga ga bikin pusing jdi saya bisa pahamm.... Kebawa suasananya niiiii mantap kerenn
BalasHapus